Komoditas Itu Bernama Kemiskinan October 14, 2005
Posted by ariftsyam in Insight, Media.1 comment so far
Akhirnya yang aku takutkan terjadi juga. Kemiskinan telah menjadi komoditas. Namanya komoditas ya berarti ia bisa diperjual-belikan. Lihat saja berita-berita belakangan ini, Kartu Miskin (begitu aku ingin menyebutnya) untuk mendapatkan jatah dana dari pemerintah telah diperjual-belikan oleh oknum-oknum.
Negeri ini memang sudah berada di bawah garis kewajaran dalam hal menangani kemiskinan. Maksudku, sudah tak ada lagi rasa tak tega atau malu, apalagi dosa, untuk mempermainkan nasib kaum papa (duh, semoga aku ga masuk dalam golongan itu, amiiinnn).
Soal kenaikan BBM aku sih setuju-setuju aja (tapi bukan setinggi yg sekarang, hiks), tapi soal penyebaran kompensasi dana subsidi BBM itu sungguh di luar dugaan. Kenapa harus memberi ikan, bukan kail, kepada rakyat? Apakah dengan memberikan uang lantas semua jadi beres?
Benar kata orang bijak : uang itu bisa jadi setan sekaligus malaikat! Tergantung bagaimana kita menyikapinya saat menerima uang itu dalam hitungan sepersekian detik saja. Kalau kita mau jadi setan, maka jadilah kita setan dalam sekejap (gak perlu bantuan pemburu setan). Tapi, kalau kita mau jadi malaikat saat menerima uang itu, maka jadi malaikatlah kita.
Persoalannya, kebanyakan rakyat belum paham benar bagaimana untuk menjadi malaikat dan untuk tidak jadi setan saat menerima uang dalam jumlah berapa pun. Kita belum dibiasakan menjadi entrepreneur untuk diri kita sendiri. Lihatlah betapa kita lebih bangga kalau jadi pegawai ketimbang jadi pengusaha. Betapa kita lebih mementingkan selembar ijazah sarjana ketimbang kemampuan seseorang.
Lihat juga di televisi, betapa rakyat miskin telah dininabobokkan oleh acara bagi-bagi rezeki. Tak ada satu pun dari acara itu yang mengajarkan atau paling tidak mengingatkan bagaimana cara mengelola uang yang mendadak jatuh dari langit itu.
Jadi, televisi dan para kreator acara-acara tersebut sadar atau tidak sadar telah mendidik rakyat miskin untuk tetap jadi miskin. Uang yang mereka berikan atau sumbangkan tidaklah signifikan dengan penderitaan mereka selama ini dan yang akan datang. Mungkin perlu ada survey terhadap mereka yang telah menerima uang tersebut untuk mengetahui bagaimana nasib mereka selanjutnya.
Belum lagi kalau kita melihat iklan-iklan yang menyertai acara-acara tersebut yang rata-rata bisa dibilang lebih dari lumayan. Bahkan, lebih dari cukup untuk membiayai ongkos produksinya yang memang murah. Gimana ga murah? Ga perlu setting lokasi, make-up artis dan fee sutradara cs yang biasanya makan biaya tinggi.
Jadi, uang yang diberikan kepada rakyat jelata dalam acara tersebut adalah sepersekian persen dari total pendapatan iklan. Artinya, selain rakyat-rakyat miskin yang jadi obyek acara tersebut, pihak-pihak yang tertolong lainnya adalah para kru, pembawa acara dan tentunya rumah produksi acara tersebut yang notabene mungkin tak lebih miskin dari para obyek acara tersebut.
Dengan lain perkataan : kemiskinan adalah komoditas yang laris manis!
Aku sih berharap dan – ingin percaya – para kru atau pembawa acara yang jauh lebih baik nasibnya dari si obyek punya sendiri dalam menolong para obyek ini dengan cara-cara yang mungkin tak ditayangkan. Tapi, dampak psikologis dari acara ini lebih banyak bersifat ria ketimbang sebuah keikhlasan atau ingin mengetuk hati orang kaya untuk berbagi. Bagi rakyat kebanyakan pun efeknya hanya menjadi penunggu rezeki nomplok bukan sebagai human beings who are ready to survive!
Atau dengan kata lain, seperti para pegawai (ma’af) yang selalu menunggu gaji tiap akhir bulan (padahal sebenarnya jadi pegawai tidaklah selalu jelek kalau saja punya juga karakter sebagai entrepreneur, artinya tak melulu mengharapkan gaji yang ada).
Atau jangan-jangan SBY dan JK juga terinspirasi acara-acara seperti ini untuk membagi-bagikan dana kompensasi BBM ini? Sebab, belakangan JK pun sibuk inspeksi ke berbagai lokasi untuk menyaksikan pembagian dana ini yang selalu ditayangkan di televisi. Hanya saja JK tak pakai kostum Mr. Easy Money he he he …
Negeri ini memang sudah berada di bawah garis kewajaran dalam hal menangani kemiskinan. Maksudku, sudah tak ada lagi rasa tak tega atau malu, apalagi dosa, untuk mempermainkan nasib kaum papa (duh, semoga aku ga masuk dalam golongan itu, amiiinnn).
Soal kenaikan BBM aku sih setuju-setuju aja (tapi bukan setinggi yg sekarang, hiks), tapi soal penyebaran kompensasi dana subsidi BBM itu sungguh di luar dugaan. Kenapa harus memberi ikan, bukan kail, kepada rakyat? Apakah dengan memberikan uang lantas semua jadi beres?
Benar kata orang bijak : uang itu bisa jadi setan sekaligus malaikat! Tergantung bagaimana kita menyikapinya saat menerima uang itu dalam hitungan sepersekian detik saja. Kalau kita mau jadi setan, maka jadilah kita setan dalam sekejap (gak perlu bantuan pemburu setan). Tapi, kalau kita mau jadi malaikat saat menerima uang itu, maka jadi malaikatlah kita.
Persoalannya, kebanyakan rakyat belum paham benar bagaimana untuk menjadi malaikat dan untuk tidak jadi setan saat menerima uang dalam jumlah berapa pun. Kita belum dibiasakan menjadi entrepreneur untuk diri kita sendiri. Lihatlah betapa kita lebih bangga kalau jadi pegawai ketimbang jadi pengusaha. Betapa kita lebih mementingkan selembar ijazah sarjana ketimbang kemampuan seseorang.
Lihat juga di televisi, betapa rakyat miskin telah dininabobokkan oleh acara bagi-bagi rezeki. Tak ada satu pun dari acara itu yang mengajarkan atau paling tidak mengingatkan bagaimana cara mengelola uang yang mendadak jatuh dari langit itu.
Jadi, televisi dan para kreator acara-acara tersebut sadar atau tidak sadar telah mendidik rakyat miskin untuk tetap jadi miskin. Uang yang mereka berikan atau sumbangkan tidaklah signifikan dengan penderitaan mereka selama ini dan yang akan datang. Mungkin perlu ada survey terhadap mereka yang telah menerima uang tersebut untuk mengetahui bagaimana nasib mereka selanjutnya.
Belum lagi kalau kita melihat iklan-iklan yang menyertai acara-acara tersebut yang rata-rata bisa dibilang lebih dari lumayan. Bahkan, lebih dari cukup untuk membiayai ongkos produksinya yang memang murah. Gimana ga murah? Ga perlu setting lokasi, make-up artis dan fee sutradara cs yang biasanya makan biaya tinggi.
Jadi, uang yang diberikan kepada rakyat jelata dalam acara tersebut adalah sepersekian persen dari total pendapatan iklan. Artinya, selain rakyat-rakyat miskin yang jadi obyek acara tersebut, pihak-pihak yang tertolong lainnya adalah para kru, pembawa acara dan tentunya rumah produksi acara tersebut yang notabene mungkin tak lebih miskin dari para obyek acara tersebut.
Dengan lain perkataan : kemiskinan adalah komoditas yang laris manis!
Aku sih berharap dan – ingin percaya – para kru atau pembawa acara yang jauh lebih baik nasibnya dari si obyek punya sendiri dalam menolong para obyek ini dengan cara-cara yang mungkin tak ditayangkan. Tapi, dampak psikologis dari acara ini lebih banyak bersifat ria ketimbang sebuah keikhlasan atau ingin mengetuk hati orang kaya untuk berbagi. Bagi rakyat kebanyakan pun efeknya hanya menjadi penunggu rezeki nomplok bukan sebagai human beings who are ready to survive!
Atau dengan kata lain, seperti para pegawai (ma’af) yang selalu menunggu gaji tiap akhir bulan (padahal sebenarnya jadi pegawai tidaklah selalu jelek kalau saja punya juga karakter sebagai entrepreneur, artinya tak melulu mengharapkan gaji yang ada).
Atau jangan-jangan SBY dan JK juga terinspirasi acara-acara seperti ini untuk membagi-bagikan dana kompensasi BBM ini? Sebab, belakangan JK pun sibuk inspeksi ke berbagai lokasi untuk menyaksikan pembagian dana ini yang selalu ditayangkan di televisi. Hanya saja JK tak pakai kostum Mr. Easy Money he he he …
BBM, BOM, PUASA : MAAF! October 4, 2005
Posted by ariftsyam in Economy, Insight, Politics.add a comment
Bom meledak lagi di Bali. Darah pun mengalir lagi. Padahal rasa terkejut ini belum lagi habis atas kenaikan BBM yang ‘menggila’! Adakah hubungannya antara keduanya; BBM dan Bom? Aku yakin pasti tak ada. Tapi, ada saja yang usil; salah-satu media di Jakarta membuat Headline : BBM = Bom Bali Meledak! (Gila! Ini serius bung, kok dibecandain gitu?)
Media massa di negeri ini memang punya karakter yang rasanya sulit untuk dipahami (aku akan tulis sendiri di bagian yang lain) dibanding memahami keberpihakan media Barat kepada hal-hal yang berbau non-Islam.
Kembali ke masalah Bom Bali dan BBM. Siapa pun pasti tak setuju dengan Bom di Bali kemarin, dan tentu juga tidak setuju dengan kenaikan BBM yang melambung itu. Bom tentu mampu mencabut nyawa seseorang, bahkan banyak orang. Kenaikan BBM, meski dana subsidinya dialihkan untuk membantu banyak orang miskin, tapi tak bisa disangkal akan mampu juga mencekik kalangan menengah.
Kalangan menengah adalah yang paling menderita kalau begini. Sudah tak dapat pembagian dana subsidi, karena tidak termasuk orang miskin, tapi harus menanggung kenaikan harga di mana-mana – mulai dari ongkos kendaraan umum sampai barang-barang kebutuhan sehari-hari – sementara gaji tidak naik-naik.
Apalagi Bom Bali II ini membuat dolar bergejolak lagi. Harga-harga pun akan bergerak bukan lagi hanya karena kenaikan BBM, tapi gara-gara ketidakstabilan ekonomi akibat Bom itu. Tambahan lagi, bulan puasa menjelang. Kebutuhan orang pun akan meningkat. Artinya, demand pun naik, sementara supply bisa jadi akan berkurang – akibat kenaikan BBM yang melambungkan ongkos-ongkos transportasi. Dengan kata lain, makin terjepitlah kita yang berada di golongan menengah ini.
Haruskah kita memiskinkan diri agar dapat aliran dana limpahan subsidi BBM? Aku juga ingat hikayat-hikayat zaman kerajaan dulu yang katanya raja-rajanya harus menyamar jadi orang miskin juga untuk bisa keliling di kampung2 orang miskin untuk tahu kondisi mereka. Nah, kalau kita harus menyamar jadi orang miskin rasanya bukan untuk mengetahui bagaimana nasib orang miskin, tapi untuk mendapatkan jatah orang miskin. He he he … lucu juga ya … tiba-tiba kita ingin jadi orang miskin kalo begini situasinya?
Namun, program bagi-bagi uang ke mereka yang masih tergolong miskin pun masih kita perlu pertanyakan. Tepatkah program itu? Bukankah itu sama saja dengan memberi ikan, bukan pancing?
Beberapa malam lalu saat aku naik taksi (berkat voucher dari kantor, bukan karena bayar sendiri), aku sempat ngobrol ngalor-ngidul dengan supir taksi. Dia bercerita bahwa program itu sudah diselewengkan di beberapa wilayah Jakarta. Beberapa ketua RW yang males mendata warga2 miskinnya dengan enaknya mendaftarkan diri kenalan2nya untuk jadi orang miskin agar dana yang ada di tangannya bisa disalurkan. Tapi, dengan catatan ia juga harus dapat bagian paling gak 10%. Gila ‘kan?
Hayo-hayo … siapa mau jadi orang miskin??? Edan tenan!
Dan beberapa hari sebelum pengumuman kenaikan BBM, kita kalangan menengah ini – yang notabene pasti punya HP – dikirimi pula SMS dari Depkominfo (ini akan jadi preseden utk masa-masa mendatang) tentang kenapa harga BBM harus naik. Ingin rasanya aku membalas SMS itu dengan kalimat begini : “Terus, apa dengan begitu persoalan orang miskin akan selesai? Terus, siapa yang bantu kami – orang yang tidak miskin tapi juga tidak kaya ini hah??? Siapa yang bisa bantu????”
Sayangnya SMS itu diprogram untuk tidak bisa menerima balasan. Dan aku khawatir untuk program-program pemerintah lainnya maka Depkominfo akan ‘bermain kata-kata’ lagi di HP kita. Siap-siap aja!
Dan, sekarang aku pun mengerti kenapa SBY memaksakan kenaikan BBM ini menjelang puasa. Mungkin kita semua sudah tahu. Karena : orang yang berpuasa itu akan mampu menahan rasa lapar, haus dan emosi, termasuk emosi terhadap kenaikan harga-harga barang dan ongkos-ongkos transport yang mengikuti jejak kenaikan harga BBM.
Dan Tim SBY pun akan dengan enteng akan bilang: sehubungan dengan bulan puasa ini kami mohon maaf bila ada kesalahan yang telah kami perbuat … Hebat ‘kan? Dan pada saat Idul Fitri nanti akan ada lagi pernyataan seperti ini : kemenangan telah kita raih atas segala rintangan hidup selama bulan puasa, termasuk mengatasi kenaikan harga-harga … Mohon Maaf Lahir Bathin!
Percaya atau tidak, tapi penasehat SBY perlu diacungi jempol untuk memilih momen yang sangat tepat ini. Tapi, jangan-jangan yang punya rencana Bom di Bali juga punya hitung2an yang sama : menjelang puasa adalah saat orang minta maaf untuk membersihkan diri. Jadi, mereka melakukan teror dulu, lalu kalau tertangkap mereka akan minta maaf, mumpung bulan puasa. Wallahualam!
Yang jelas, aku mau minta maaf kepada rekan2 yang kenal aku sejak lama atau baru kenal di FS ini jelang Ramadhan ini. Ini permohonan maaf yang tulus, tidak diembel-embeli apa pun. Suwer! Maafin yaaaa …
Media massa di negeri ini memang punya karakter yang rasanya sulit untuk dipahami (aku akan tulis sendiri di bagian yang lain) dibanding memahami keberpihakan media Barat kepada hal-hal yang berbau non-Islam.
Kembali ke masalah Bom Bali dan BBM. Siapa pun pasti tak setuju dengan Bom di Bali kemarin, dan tentu juga tidak setuju dengan kenaikan BBM yang melambung itu. Bom tentu mampu mencabut nyawa seseorang, bahkan banyak orang. Kenaikan BBM, meski dana subsidinya dialihkan untuk membantu banyak orang miskin, tapi tak bisa disangkal akan mampu juga mencekik kalangan menengah.
Kalangan menengah adalah yang paling menderita kalau begini. Sudah tak dapat pembagian dana subsidi, karena tidak termasuk orang miskin, tapi harus menanggung kenaikan harga di mana-mana – mulai dari ongkos kendaraan umum sampai barang-barang kebutuhan sehari-hari – sementara gaji tidak naik-naik.
Apalagi Bom Bali II ini membuat dolar bergejolak lagi. Harga-harga pun akan bergerak bukan lagi hanya karena kenaikan BBM, tapi gara-gara ketidakstabilan ekonomi akibat Bom itu. Tambahan lagi, bulan puasa menjelang. Kebutuhan orang pun akan meningkat. Artinya, demand pun naik, sementara supply bisa jadi akan berkurang – akibat kenaikan BBM yang melambungkan ongkos-ongkos transportasi. Dengan kata lain, makin terjepitlah kita yang berada di golongan menengah ini.
Haruskah kita memiskinkan diri agar dapat aliran dana limpahan subsidi BBM? Aku juga ingat hikayat-hikayat zaman kerajaan dulu yang katanya raja-rajanya harus menyamar jadi orang miskin juga untuk bisa keliling di kampung2 orang miskin untuk tahu kondisi mereka. Nah, kalau kita harus menyamar jadi orang miskin rasanya bukan untuk mengetahui bagaimana nasib orang miskin, tapi untuk mendapatkan jatah orang miskin. He he he … lucu juga ya … tiba-tiba kita ingin jadi orang miskin kalo begini situasinya?
Namun, program bagi-bagi uang ke mereka yang masih tergolong miskin pun masih kita perlu pertanyakan. Tepatkah program itu? Bukankah itu sama saja dengan memberi ikan, bukan pancing?
Beberapa malam lalu saat aku naik taksi (berkat voucher dari kantor, bukan karena bayar sendiri), aku sempat ngobrol ngalor-ngidul dengan supir taksi. Dia bercerita bahwa program itu sudah diselewengkan di beberapa wilayah Jakarta. Beberapa ketua RW yang males mendata warga2 miskinnya dengan enaknya mendaftarkan diri kenalan2nya untuk jadi orang miskin agar dana yang ada di tangannya bisa disalurkan. Tapi, dengan catatan ia juga harus dapat bagian paling gak 10%. Gila ‘kan?
Hayo-hayo … siapa mau jadi orang miskin??? Edan tenan!
Dan beberapa hari sebelum pengumuman kenaikan BBM, kita kalangan menengah ini – yang notabene pasti punya HP – dikirimi pula SMS dari Depkominfo (ini akan jadi preseden utk masa-masa mendatang) tentang kenapa harga BBM harus naik. Ingin rasanya aku membalas SMS itu dengan kalimat begini : “Terus, apa dengan begitu persoalan orang miskin akan selesai? Terus, siapa yang bantu kami – orang yang tidak miskin tapi juga tidak kaya ini hah??? Siapa yang bisa bantu????”
Sayangnya SMS itu diprogram untuk tidak bisa menerima balasan. Dan aku khawatir untuk program-program pemerintah lainnya maka Depkominfo akan ‘bermain kata-kata’ lagi di HP kita. Siap-siap aja!
Dan, sekarang aku pun mengerti kenapa SBY memaksakan kenaikan BBM ini menjelang puasa. Mungkin kita semua sudah tahu. Karena : orang yang berpuasa itu akan mampu menahan rasa lapar, haus dan emosi, termasuk emosi terhadap kenaikan harga-harga barang dan ongkos-ongkos transport yang mengikuti jejak kenaikan harga BBM.
Dan Tim SBY pun akan dengan enteng akan bilang: sehubungan dengan bulan puasa ini kami mohon maaf bila ada kesalahan yang telah kami perbuat … Hebat ‘kan? Dan pada saat Idul Fitri nanti akan ada lagi pernyataan seperti ini : kemenangan telah kita raih atas segala rintangan hidup selama bulan puasa, termasuk mengatasi kenaikan harga-harga … Mohon Maaf Lahir Bathin!
Percaya atau tidak, tapi penasehat SBY perlu diacungi jempol untuk memilih momen yang sangat tepat ini. Tapi, jangan-jangan yang punya rencana Bom di Bali juga punya hitung2an yang sama : menjelang puasa adalah saat orang minta maaf untuk membersihkan diri. Jadi, mereka melakukan teror dulu, lalu kalau tertangkap mereka akan minta maaf, mumpung bulan puasa. Wallahualam!
Yang jelas, aku mau minta maaf kepada rekan2 yang kenal aku sejak lama atau baru kenal di FS ini jelang Ramadhan ini. Ini permohonan maaf yang tulus, tidak diembel-embeli apa pun. Suwer! Maafin yaaaa …