KETIKA SEORANG ANAK BALITA GUGAT TUHAN April 28, 2006
Posted by ariftsyam in Insight, Kids.add a comment

Tuhan …
Bolehkah aku tanya? Kenapa aku lahir ke planet ini? Apa tidak ada planet lain?
Maksud aku, kenapa aku lahir dengan orangtua yang seperti ini? Mereka bercerai tanpa peduli pendapat – paling tidak tanya dulu kek pendapat aku.
Kenapa ya, Tuhan?
Aku kan gak minta dilahirkan? Maksud aku dilahirkan oleh mereka. Kalau saja aku tahu akan begini jadinya, aku pengen deh ga punya orangtua seperti mereka. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri aja. Mereka ga mikir kalau mereka bercerai berarti aku kan punya orangtua yang ga lengkap. Masak sebentar aku tidur di rumah mama, beberapa hari kemudian tidur sama papa, di rumah yang berbeda. Aku ga kepengen punya kehidupan seperti ini.
Tuhan …
Kalau mereka memang salah mengambil keputusan untuk menikah dulu, kenapa juga kesalahan mereka jadi kesalahan aku juga? Waktu mereka pacaran trus menikah, aku kan belom ada. Kenapa Tuhan?
Sekarang aku harus bagaimana, Tuhan?
Sebab, suaraku ini tak mungkin mereka dengar. Sebab, suaraku ini hanya angan-angan belaka. Seandainya saja mereka bisa mendengar atau seandainya saja aku bisa bicara seperti mereka, mau ga ya mereka tidak egois?
Tuhan,
Boleh ga aku minta sesuatu? Bisa ga balikin aku kembali ke surga?
(Ini suara hatiku melihat kasus-kasus perceraian yang makin menggila di kalangan selebriti)
Bagaimana Kalau Kartini Jadi Cover Playboy? April 21, 2006
Posted by ariftsyam in Insight, Woman.1 comment so far

Ya, kalau saja Kartini masih hidup dan ditawarkan jadi cover majalah Playboy Indonesia, apa ya kira-kira reaksinya?
Ini bukan guyonan. Tapi, coba saja kita bayangkan, dia, Kartini, yang selalu kita peringati setahun sekali itu, lalu kita ‘anugrahi’ menjadi cover majalah Playboy.
Sebuah majalah yang katanya merupakan ekspresi kebebasan seni tubuh perempuan. Sebuah kebebasan yang sangat luas, bahkan sangat-amat luas.
Dan di saat emansipasi itu telah tercapai – bahkan Kartini pun tak pernah melihatnya – saat ini, ternyata banyak terjadi kebablasan. Dulu, perempuan tak ada yang korupsi, sekarang ada. Dulu, tak ada perempuan yang selingkuh, sekarang banyak. Dulu, perempuan sangat menjaga tubuhnya, sekarang diobral.
Maka banjirlah media-media yang memanfaatkan tubuh perempuan sebagai obyek ‘jualan’. Puncaknya, saat majalah Playboy diizinkan terbit di sini. Lalu, muncullah ide meng-’anugrahi’ Kartini di cover majalah itu sebagai puncak dari hasil perjuangan yang kebablasan.
…
Sedih rasanya. Perjuangan yang harus ditempuh dengan pengorbanan perasaan selama bertahun-tahun oleh Kartini ternyata malah diplintir oleh kaumnya sendiri.
Bayangkan, mereka para model berdalih bahwa berpose vulgar di media-media esek-esek adalah bagian dari kebebasan mereka mencari uang. Kebebasana yang sama dengan perempuan yang jadi kernet bis, pedagang, maling, manager, direktris atau komisaris bahkan menteri.
Ironis …
… kulihat ibu ‘Kartini’ (bukan pertiwi) sedang bersusah hati … airmatanya berlinang …
Kembali ke pertanyaan awal, apa ya kira-kira reaksi Kartini kalau ditawari jadi model cover majalah Playboy Indonesia?
FIRST LOVE FIRST April 11, 2006
Posted by ariftsyam in Insight, Love.add a comment
Drama keluarga Gusti Randa dan Nia Paramita belakangan ini makin melengkapi kisah-kisah haru-biru dunia artis kita. Mungkin selayaknya kita mengucapakan, ‘innalillahi wainnailaihi rojiun’. Bagaiman tidak? Pernikahan seperti bukan lagi lembaga yang sakral bagi mereka, dan perceraian sepertinya sudah menjadi solusi emas, bahkan mungkin berlian. Tragis!
Kita semua pernah mendengar kalimat, ” … meregang nyawa … ” yang artinya nyawa seseorang hilang dari jasadnya alias tewas, alias mati! Nah, saya ingin mengistilahkan kondisi dunia artis kita dengan kalimat “meregang cinta”.
Ya, sepertinya artis-artis kita telah kehilangan rasa cinta sejati. Cinta telah meregang dari jasad mereka. Sehingga begitu mudahnya menikah dan begitu mudahnya juga bercerai.
Kasihan pendeta Valentino yang konon dihukum mati karena ia melanggar larangan kerajaan yang berkuasa saat ia hidup untuk menikahkan sepasang kekasih secara agama (Kristen). Dan pada hari ia dihukum, menurut sejarah yang pernah saya baca, dijadikanlah hari peringatan Valentine untuk mengenang perjuangan si pendeta yang rela dihukum mati demi melanggengkan cinta sepasang kekasih untuk menjadi suami-istri.
Dan ironisnya, para artis kitalah yang sering merayakan hari Valentine. Jadi, sepertinya hari Valentine tak punya makna apa-apa selain hura-hura dan menghamburkan uang.
Yang jelas, pernikahan dan perceraian bagi artis-artis kita sepertinya dianggap sebagai bagian dari acting/lakon sebuah sinetron, drama panggung atau film layar lebar. Atau mungkin kita perlu menciptakan sebuah award untuk hal ini dengan nama Love-Acting Award? Artinya siapa yang paling gampang jatuh cinta dan paling mudah untuk merusaknya kembali berhak atas award itu.
Lucunya lagi, saat salah-satu pihak (apakah suami atau istri) menggugat pasangannya seolah-olah ia telah menjatuhkan vonis mati. Pokoknya cerai! Tak ada kata kompromi, tak ada ruang untuk sekadar merenung. Sepertinya semua cara damai telah ditempuh dan mentok pada jalan buntu.
Pihak keluarga pun diabaikan dengan tameng kata-kata “semuanya kami berdua yang menjalankan, kenapa harus orang lain dilibatkan?” Sepertinya ia lupa bahwa saat menikah mereka ikut melibatkan keluarga untuk mohon doa restu. Di saat mereka sedang terpuruk mereka seperti menutup doa restu itu.
Aku pun jadi teringat ayat Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya dengan kalimat saktinya “… kun faya kun … jadi maka jadilah …”
Aku jadi tertawa miris dalam hati, “Apakah mereka ingin menjadi Tuhan?” dengan menutup semua jalan damai tanpa kecuali. Apalagi dengan begitu gamblangnya mereka membuka kesalahan fatal pasangannya sebagai alasan gugatan cerai mereka. Seolah-olah hanya pasangannyalah yang pernah bersalah dan mereka tak pernah melakukan kesalahan. Seolah-olah pasangannya memang layak dihukum oleh dia. Dan Tuhan pun yang Maha Pengampun ia langkahi. Duh!
Pernah dengan kalimat “First Thing First”? Yang maknanya secara sekilas, melakukan apa yang terpenting dan paling dibutuhkan terlebih dahulu dibanding hal lain. Mudah-mudahan pernah.
Dengan banyaknya peristiwa ‘meregang cinta’ saat ini aku jadi ingin menganalogikan istilah itu menjadi “First Love First”. Maksudnya, mencintai apa yang paling penting dan yang hakiki terlebih dahulu sebelum mencintai yang lain.
Yang paling penting dan hakiki untuk dicintai? Apalagi kalau bukan Allah? Sebab, dia yang Maha segala-galanya. Ya, Pengasih dari segala yang Pengasih, Pengampun dari segala Pengampun, Pencinta dari segala Pencinta, dan segala yang lainnya.
Lalu aku berpikir, jangan-jangan para artis kita memang tidak atau belum bias mencintai Allah secara tulus dan mendalam. Sehingga ia tak pernah bisa mendalami apa makna ke-Maha-an Allah atas segalanya. Karena itu mereka bertindak seolah-olah seperti Allah.
Misalnya, kalau saja mereka mau mendalami makna Maha Pengampun dari Allah, maka mungkin mereka akan berpikir, “Kalau Allah saja mau mengampuni hambanya yang bertobat, kenapa aku harus sombong tak mau mengampuni pasanganku?” Tak tahulah aku.
Dengan segala kerendahan hati aku ingin mengajak khususnya pada diriku sendiri dan siapa pun kamu, mari cintailah Allah sepenuh hati sebelum mencintai yang lain di muka bumi ini. First love first!