jump to navigation

Berbagai Gaya Anakku : Fathan May 19, 2006

Posted by ariftsyam in Kids.
add a comment



PAY May 3, 2006

Posted by ariftsyam in Music.
add a comment


Selasa malam, 2 Mei 2006, tepat pukul 20.30, sekelompok anak muda naik sebuah panggung mini berukuran sedang dan tingginya juga hanya 30 cm. Masing-masing anak muda yang berjumlah tiga orang itu langsung ambil peralatan musik yang mereka kuasai. Satu ke drum set, satu ke gitar dan yang lainnya ke gitar bas.
Seorang vokalis, masih mudah juga, pun didaulat untuk naik menyumbangkan suara emasnya. Sebuah lagu meluncur dengan harmonis bersama nada-nada yang keluar dari peralatan musik.
Selasa malam itu, di sebuah kawasan perumahan biasa – daerah Cempaka Putih, memang sedang berlangsung sebuah perhelatan kejutan untuk yang punya rumah yang sedang jarig/ultah ke-36. Sebuah panggung mini dan tenda cukup luas untuk menampung sekitar 50-an orang terpasang sejak siang tanpa diketahui si empunya rumah (karena kabarnya siang itu ia diajak jalan-jalan keluar rumah oleh istrinya).
Pay, si empunya rumah dan yang sedang jarig memang terkejut dengan acara ini. Ia tak menyangka ada acara yang dikemas sendiri oleh anak-anak asuhnya (katakanlah begitu untuk menyebut anak-anak muda yang memang sedang digodok oleh Pay dalam hal bermusik dan menelurkan album demi album di studio musiknya).
Pay sendiri memang pantas untuk menerima pesta kejutan itu. Karena, seperti kata salah-seorang anak mudah asuhannya dengan lantang di atas panggung mini ketika diminta komentarnya tentang Pay, “Kalau ada pemilihan musisi yang berpengaruh dalam musik di Indonesia, saya akan pilih Bang Pay!”
Pay, memang bukan tokoh musik Indonesia kemaren sore. Ia, bisa dibilang yang memberi warna pada Slank ketika ia masih bergabung dengan kelompok musik legendaris itu beberapa tahun lalu. Ia juga masih memberi warna pada peta musik Indonesia ketika membentuk kelompok musik sendiri dengan nama BIP dan membantu musisi-musisi lain dalam menggarap lagu-lagu mereka serta membina grup-grup musik anak muda.
Yang menarik bagi aku adalah hubungan guru dan murid antara Pay dengan para anak asuhnya yang berjumlah lebih dari 15 grup musik dan penyanyi solo anak muda yang tergabung dalam komunitas Vacuum Noise itu.
Kenapa tertarik hubungan guru dan murid? Selain karena ini adalah komunitas grup musik pertama di Indonesia (yang terbentuk bukan oleh gurunya tapi inisiatif oleh para murid-muridnya), mungkin, yang bisa dibilang cukup solid, juga karena ini adalah bulan Mei yang selalu identik dengan dunia pendidikan bagi bangsa ini.
Kalau sudah bicara dunia pendidikan di negeri ini, khususnya hubungan antara guru dan murid, pasti akan banyak sisi menarik. Namun, aku hanya ingin mengomentari tentang betapa indahnya hidup Pay saat ini sebagai seorang ‘guru’.
Bagaimana tidak? Ia yang masih muda dan masih aktif bermusik tapi sudah mampu menelorkan grup-grup musik berpotensi di negeri ini. Bahkan, beberapa di antaranya sudah bisa dibilang sedang menapaki tangga kesuksesan, seperti Sandy.
Ini artinya Pay masih akan lebih lama lagi menikmati rasa hormat dari para muridnya itu. Rasa hormat yang aku yakin akan berkembang terus pada saat anak-anak asuhnya ini mendaki puncak-puncak kesuksesan. Ah … indahnya
Apalagi Pay sendiri tetap berpenampilan apa adanya. Bukan penampilan seorang guru yang harus berwibawa atau menjaga jarak di hadapan murid-muridnya. Ia, seperti diakui para anak-anak asuhnya itu saat bertestimoni dan mengucapkan selamat ultah di panggung malam itu, adalah sahabat, teman, orangtua dan rekan kerja bagi para anak muda itu.
Tambahan lagi, Dewiq, istrinya belakangan juga ikut berkiprah sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu yang produktif. Beberapa lagunya dipakai penyanyi tenar di Tanah Air, seperti Agnes Moniqa dan Iwan Fals. Makin lengkaplah sosokmu, Pay!
Tak heran kalau sosok Pay juga sangat dihormati di kalangan musisi sejawatnya. Vokalis Padi, Fadli, serta wartawan musik senior, Remmy, pun rela meluangkan waktu mereka untuk datang ke perhelatan malam itu. Bahkan, Fadly tak segan-segan ikut naik panggung menyumbangkan suara khasnya.
Konon Fadly merupakan satu dari sekian banyak musisi di negeri ini yang merasakan ‘betuah’*-nya tangan dingin Pay dalam menggarap calon bintang. Opick yang kini namanya sedang meroket juga tak lepas dari campur tangan Pay. Begitulah yang aku dengar.
Benar tidaknya cerita-cerita itu aku tak terlalu peduli, yang jelas malam itu telah membuktikan bahwa Pay memang layak mendapatkan penghormatan sebagai tokoh musik berpengaruh di Republik ini.
Happy Birthday, Pay!

*betuah (bhs melayu) = kekuatan tak terlihat yang ampuh