Posted by ariftsyam in Religious.
Suara Rendra begitu aku kenal. Tanpa sosoknya pun rasanya kita dengan mudah mengenal suara Maestro itu. Jadi, ketika suaranya muncul sebagai narrator iklan layanan masyarakat sebuah produk di TV dalam rangka Idul Fitri tahun ini, sudah tak terlalu asing bagiku.
Sudah lama tak mendengar suaranya (terakhir malah ketika ia berpidato saat menerima Penghargaan Achmand Bakrie Agustus lalu – saat aku jadi crew EO acara itu). Sungguh sangat menenangkan.
Tapi, ketika menyimak apa yang ia lontarkan dari mulutnya, aku sedikit terhenyak. “Sudah berapa Ramadhan yang kita lalui … sudah berapa maaf yang kita minta ? “
Ya, rasanya memang keterlaluan! Sudah belasan bahkan mungkin puluhan kali kita bertemu Ramadhan dan bermaaf-maafan saat Idul Fitri. Tapi, ternyata dari tahun ke tahun ukhuwah/hubungan kita dengan sesama dan dengan Yang Khalik sepertinya begitu-begitu saja.
Jadi apa artinya maaf-maafan? Apa artinya kita berlatih mengendalikan emosi dan nafsu selama sebulan setiap tahun? Aku membathin.
Ah … dengan suara Rendra itu aku jadi makin tersentak. Bahkan, seperti dihempaskan dari atas ke lantai hingga aku pun merenung ketimbang kesakitan karena hempasan itu.
Pikiran setanku pun segera memberi angin, “Ah, banyak juga orang bersikap serupa tapi mereka toh tetap bisa menjalani hidup ini dengan sukses?” Pikiran malaikatku membantah, “Kehidupan orang tidaklah seharusnya menjadi barometer kehidupan diri sendiri.”
Aku kembali merenung. Hingga akhirnya aku teringat kata-kata Aa Gym bahwa barometer sukses seorang muslim adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin, dan apakah besok kita akan menjadikannya lebih baik dari hari ini.
Hmm … daily parameter, boleh juga. Dan rasanya bukan hanya untuk soal keimanan, untuk soal kerja bisa juga nih.
Lalu aku berpikir lagi, Ramadhan memang seharusnya jadi paremeter keimanan kita dari tahun ke tahun. Lucunya kebanyakan dari kita menjadikannya hanya sebagai bulan pembersihan diri atau, parahnya lagi, istirahat. Sebulan bersih atau rehat, 11 bulan lainnya … ya back to basic! Bah!?
Karena itu, pas sekali kalimat Rendra di iklan layanan masyarakat itu. Dengan berkali-kali kita berlatih dan berkali-kali minta maaf sepertinya kita bermain-main dengan Allah.
Bayangkan, betapa kita termasuk orang-orang yang tak pandai bersyukur? Padahal tak terhitung hidayah dan berkah yang diberikan-Nya setiap detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun? Padahal belum tentu kita bertemu kembali Ramadhan berikutnya?
Lantas aku pun berpikir, sebenarnya ujian yang sesungguh-sungguhnya adalah 11 bulan kemudian setelah Ramadhan hingga kita bertemu kembali Ramadhan. Bukan saat kita menahan rasa lapar, haus, nafsu atau emosi selama sebulan. Ya, ini memang bukan ujian yang ringan. Apalagi dengan kehidupan seperti di Indonesia ini dengan segala tetek-bengek persoalan yang multi-dimensi yang tak ada habisnya.
Aku sekarang jadi lebih paham kenapa Rasulullah begitu sedih dan menyebut-nyebut : “ummati … ummatiii … ummatiii …” saat ia sedang sekarat. Konon, itu merupakan gambaran betapa berat ujian yang akan dihadapi oleh ummatnya sepeninggalnya. Dan kalau tak salah, ia pernah bersabda bahwa ummatnya yang kelak hidup tanpa kehahiran dirinya nilai tawakalnya lebih baik ketimbang ummatnya yang hidup di zamannya.
Hmmm … sementara apa yang kita lakukan saat ini? Kembali lagi ke kalimat Rendra …. : Sudah berapa Ramadhan yang kita lalui? Sudah berapa maaf yang kita minta? … Dan kita masih begini-gini saja? Yang terakhir ini dari bathinku sendiri.*
Posted by ariftsyam in Ad-TV, Religious, Social.
Dunia pertelevisian kita belakangan ini makin marak. Mulai dari stasiun TV baru – baik cakupan nasional maupun lokal – TV Berbayar (Pay TV), merger TV-TV lama hingga investor baru di stasiun TV lama. Semua menunjukkan betapa TV memang sebuah industri yang menjanjikan untuk sebuah investasi dalam jumlah besar dan jangka panjang.
Karena itu produk-produk saling berlomba beriklan di TV-TV yang memiliki program-program terbaik (bukan lagi hanya karena timing-nya/primetime). Termasuk di saat Ramadhan seperti sekarang ini. Begitu banyak produk yang iklannya disesuaikan dengan suasana Ramadhan atau Lebaran.
Sayangnya, sekali lagi sayangnya, ada saja pihak-pihak produsen yang kebablasan dalam membuat/menciptakan sebuah iklan di bulan yang suci ini. Maka lahirlah iklan yang memang diciptakan untuk ditempatkan jelang buka puasa yang tidak etis.
Ada beberapa produk yang tak perlu saya sebutkan di sini (silakan simak saja setiap maghrib di beberapa stasiun TV – RCTI dan SCTV yang pernah saya lihat) dengan sengaja memasukkan materi tabuhan bedug intro dan sepenggal kalimat pertama adzan maghrib – kata-kata “Allahu Akbar” sebagai materi pokok iklan produk mereka.
Tujuan iklan ini jelas, untuk mengucapkan “selamat berbuka puasa”. Tapi, caranya? Apa tidak ada cara lain yang lebih etis dan elegant ketimbang memakai materi tabuhan bedug intro dan sepenggal adzan?
Bukankah, tabuhan bedug dan adzan maghrib adalah bagian dari yang sakral dari sebuah ibadah yang namanya shalat – khusus selama Ramadhan, juga sebagai pertanda berbuka puasa?
Sepertinya produsen produk tersebut sudah menghalalkan segala cara untuk sekadar menarik perhatian konsumennya melalui iklan seperti itu. Padahal kenyataannya adalah bahwa iklan ini seperti ‘meledek’ orang yang sedang menunggu waktu berbuka puasa. Sebab, iklan tersebut diputar berulang-ulang beberapa menit (sekitar 2-3 menit) sebelum adzan sebenarnya berkumandang. Bagi mereka yang sedang ’sekarat’ menunggu adzan maghrib bukan tidak mungkin akan menyangka iklan ini adalah tanda berbuka puasa. Sebaliknya, kalau adzan yang sebenarnya berkumandang, kita pun jadi agak ragu, apakah ini adzan atau bagian dari iklan?
Dari sisi kreatif iklan, tentu ini merupakan bentuk kreatifitas paling rendah. Karena, iklan ini tidak punya konsep iklan yang ajeg dan jelas. Iklan seperti ini hanya mengambil gampangnya saja tanpa memikirkan efeknya terhadap esensi adzan itu sendiri.
Yang patut disayangkan juga adalah pihak-pihak yang seharusnya menjadi polisi dalam hal-hal seperti ini, seperti MUI atau lembaga lainnya (mungkin termasuk ormas-ormas yang selama ini dikenal ‘galak’ terhadap segala bentuk pelecehan terhadap unsur-unsur Islami) terkesan adem-ayem saja.
Parahnya lagi, stasiun TV yang menerima iklan seperti ini juga tampaknya meloloskan begitu saja. Mungkin, (apalagi?), pertimbangannya soal bisnis. “You ada uang, silakan masuk!” Entahlah.
Yang jelas, saya pribadi sangat terganggu dengan iklan seperti ini yang sayangnya saya baru ‘ngeh’ setelah melewati lebih dari seminggu puasa (karena saya jarang berbuka di rumah atau di tempat yang ada TV-nya akibat tuntutan pekerjaan.)
Semoga saja dengan tulisan saya ini ada pihak-pihak yang tergerak untuk mempertimbangkan lagi bentuk iklan-iklan yang etis atau tidak etis jelang berbuka puasa. Bukan juga berarti pendapat saya benar adanya, tapi mudah-mudahan hati saya bersih dari segala syak-wasangka atau kepentingan produk tertentu atau apa pun namanya yang bertujuan merugikan satu atau beberapa pihak.
Saya hanya mengkhawatirkan, kalau adzan saja sudah bisa dijadikan ‘materi’ iklan sehingga iklannya tidak etis seperti ini, apalagi bagian dari unsur-unsur Islam yang akan dikomersilkan di masa mendatang? Semoga saja ini tidak terjadi, dan semoga preseden buruk seperti iklan-iklan tidak etis jelang buka puasa ini bisa diredam sampai titik nol!