Iklan Tidak Etis Jelang Buka Puasa October 10, 2006
Posted by ariftsyam in Ad-TV, Religious, Social.add a comment
Dunia pertelevisian kita belakangan ini makin marak. Mulai dari stasiun TV baru – baik cakupan nasional maupun lokal – TV Berbayar (Pay TV), merger TV-TV lama hingga investor baru di stasiun TV lama. Semua menunjukkan betapa TV memang sebuah industri yang menjanjikan untuk sebuah investasi dalam jumlah besar dan jangka panjang.
Karena itu produk-produk saling berlomba beriklan di TV-TV yang memiliki program-program terbaik (bukan lagi hanya karena timing-nya/primetime). Termasuk di saat Ramadhan seperti sekarang ini. Begitu banyak produk yang iklannya disesuaikan dengan suasana Ramadhan atau Lebaran.
Sayangnya, sekali lagi sayangnya, ada saja pihak-pihak produsen yang kebablasan dalam membuat/menciptakan sebuah iklan di bulan yang suci ini. Maka lahirlah iklan yang memang diciptakan untuk ditempatkan jelang buka puasa yang tidak etis.
Ada beberapa produk yang tak perlu saya sebutkan di sini (silakan simak saja setiap maghrib di beberapa stasiun TV – RCTI dan SCTV yang pernah saya lihat) dengan sengaja memasukkan materi tabuhan bedug intro dan sepenggal kalimat pertama adzan maghrib – kata-kata “Allahu Akbar” sebagai materi pokok iklan produk mereka.
Tujuan iklan ini jelas, untuk mengucapkan “selamat berbuka puasa”. Tapi, caranya? Apa tidak ada cara lain yang lebih etis dan elegant ketimbang memakai materi tabuhan bedug intro dan sepenggal adzan?
Bukankah, tabuhan bedug dan adzan maghrib adalah bagian dari yang sakral dari sebuah ibadah yang namanya shalat – khusus selama Ramadhan, juga sebagai pertanda berbuka puasa?
Sepertinya produsen produk tersebut sudah menghalalkan segala cara untuk sekadar menarik perhatian konsumennya melalui iklan seperti itu. Padahal kenyataannya adalah bahwa iklan ini seperti ‘meledek’ orang yang sedang menunggu waktu berbuka puasa. Sebab, iklan tersebut diputar berulang-ulang beberapa menit (sekitar 2-3 menit) sebelum adzan sebenarnya berkumandang. Bagi mereka yang sedang ’sekarat’ menunggu adzan maghrib bukan tidak mungkin akan menyangka iklan ini adalah tanda berbuka puasa. Sebaliknya, kalau adzan yang sebenarnya berkumandang, kita pun jadi agak ragu, apakah ini adzan atau bagian dari iklan?
Dari sisi kreatif iklan, tentu ini merupakan bentuk kreatifitas paling rendah. Karena, iklan ini tidak punya konsep iklan yang ajeg dan jelas. Iklan seperti ini hanya mengambil gampangnya saja tanpa memikirkan efeknya terhadap esensi adzan itu sendiri.
Yang patut disayangkan juga adalah pihak-pihak yang seharusnya menjadi polisi dalam hal-hal seperti ini, seperti MUI atau lembaga lainnya (mungkin termasuk ormas-ormas yang selama ini dikenal ‘galak’ terhadap segala bentuk pelecehan terhadap unsur-unsur Islami) terkesan adem-ayem saja.
Parahnya lagi, stasiun TV yang menerima iklan seperti ini juga tampaknya meloloskan begitu saja. Mungkin, (apalagi?), pertimbangannya soal bisnis. “You ada uang, silakan masuk!” Entahlah.
Yang jelas, saya pribadi sangat terganggu dengan iklan seperti ini yang sayangnya saya baru ‘ngeh’ setelah melewati lebih dari seminggu puasa (karena saya jarang berbuka di rumah atau di tempat yang ada TV-nya akibat tuntutan pekerjaan.)
Semoga saja dengan tulisan saya ini ada pihak-pihak yang tergerak untuk mempertimbangkan lagi bentuk iklan-iklan yang etis atau tidak etis jelang berbuka puasa. Bukan juga berarti pendapat saya benar adanya, tapi mudah-mudahan hati saya bersih dari segala syak-wasangka atau kepentingan produk tertentu atau apa pun namanya yang bertujuan merugikan satu atau beberapa pihak.
Saya hanya mengkhawatirkan, kalau adzan saja sudah bisa dijadikan ‘materi’ iklan sehingga iklannya tidak etis seperti ini, apalagi bagian dari unsur-unsur Islam yang akan dikomersilkan di masa mendatang? Semoga saja ini tidak terjadi, dan semoga preseden buruk seperti iklan-iklan tidak etis jelang buka puasa ini bisa diredam sampai titik nol!