God Willingness? March 10, 2008
Posted by ariftsyam in Family, Insight, Love, Religious.add a comment
In recent days, especially in my country, Indonesia, the press covered a lot and
getting hot the divorce trial of Ariel ‘Peter Pan’ (a name of a group band) and his wife. Nothing is interested, actually. Because, as other artists’ divorce process, the reason
is clise.
But, there is something that has intrigue my attention. It comes from a statement of an old women who claimed that this divorce process is just God’s willingness. God’s willingness? Is it? Is it true that God want this couple to be apart?
The ‘God’s willingness’ is truly a theme that will trigger a long-long discussion, even it could be a never-ending debat. But, the simple question is, “God, the Equitable and Most Justice, want a separation of a couple who has a little-funny girl?” Isn’t it weird, right?
What I do believe is just that pairing/marriage is in God’s hand, but not the divorce! Someone could do a mistaken as choosing husband or wife when they married and then claimed that they are not an idol couple that they have to the divorce way. However, it should be clarify how was the process of their marriage. Have they do the process as God’s willing? If not, don’t say the divorce is the God’s willingness! Period!
Kulit Ketupat Yang Terkoyak October 4, 2007
Posted by ariftsyam in Insight.add a comment
Akhirnya halaman ini tidak putih lagi. Akhirnya aku goreskan lagi pena ini di sini. Kebetulan tulisan terakhir tepat pada Ramadhan 2006, dan sekarang masih Ramadhan juga. Setahun sudah! Setahun itu pula banyak kejadian pada diriku pribadi yang membuat diri ini, Insya Allah, makin matang meretas jala-jala kehidupan.
Setahun lalu, setelah aku buka tulisan terakhir itu, aku menulis mengenai ujian hidup yang sebenarnya. Yaitu, ujian setelah Ramadhan, bukan pada saat Ramadhan. Itulah ujian sejati! Dan setelah aku ingat-ingat, sepanjang kilasan waktu dari Ramadhan 1427 ke Ramadhan 1428 ini, alhamdulilah aku mengalami peningkatan, meskipun sedikit. Tapi, ada juga beberapa kemunduran. Tak apalah. Toh, manusia tetap harus maju meski ada yang tercecer bukan?
Untungnya aku masih punya jari-jari yang masih sehat untuk mengetuk tuts-tuts keyboard ini. Kalau pun tidak, aku yakin berbagai kemajuan teknologi sekarang ini akan bisa menumpahkan segala pemikiran kita ke media-media yang ada. Dengan kata lain, tak ada alasan untuk tidak bersuara!
Apalagi ketidakadilan masih tetap merambah di mana-mana. Dan terakhir, kemarin, aku baca, lihat dan dengar ketidakadilan itu terjadi di Rusun Pulomas. Entah setan mana yang masih berkeliaran di bulan Ramadhan ini sehingga mampu merusak otak petinggi-petinggi dan kroco-kroco Trantib serta staf pengembang Rusun itu. Dengan tanpa belas-kasihan mereka merangsek, melibas dan menghajar para penghuni Rusun tersebut untuk keluar dari kediaman mereka.
Seperti tak ada waktu lain yang lebih tepat, seperti tak ada sinar di nurani mereka sehingga mampu mengusir para penghuni Rusun menjelang hari kemenangan Idul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi. Baahhhhhh!!! Allah tak adakah keadilan yang bisa Kau tunjukkan pada kami?
Sementara beberapa hari sebelumnya, tersebar berita seorang petinggi Komisi Yudisial yang tertangkap basah melakukan sesuatu yang seharusnya ia hindari. Terlepas apakah dia bersalah atau tidak, hati ini benar-benar gundah.
Bagaimana tidak? Tokoh satu itu didaulat, setelah melalui bebagai tes dari para anggota yang terhormat di DPR sana, untuk menjaga wibawa hukum, tapi kenapa harus melanggar hukum? Rupanya hukum di negeri benar-benar sedang dipenjara oleh dirinya sendiri!!!
Namun, setelah mengingat-ingat bebarpa saat, aku pun tersadar, bukankah DPR kita memang selama ini bisa ‘dibeli’? Bukankah sesuatu bisa lolos dan keluar sebagai pemenang dari DPR hanya dengan lembaran-lembaran rupiah? Baaah!!! Allah tak adakah keadilan yang bisa Kau tunjukkan pada kami?
Astaghfirullah … inilah gunanya Ramadhan. Inilah kenapa Allah menurunkan ayat tentang shaum yang hanya ditujukan kepada orang-orang beriman saja. Yang tidak beriman, tidaklah dianjurkan untuk shaum. Itulah kenapa, meski, katanya selama Ramadhan semua setan dan iblis dibelenggu tapi masih saja ada ketidakadilan itu.
Masih terbayang betapa ngerinya hari-hari ke depan bagi mereka yang ada di Rusun Pulomas sana. Bagaimana mereka merayakan hari-hari kemenangan? Bagaimana dengan ketupat-ketupat mereka yang mungkin masih berbentuk daun-daun hijau pohon kelapa belum sempat mereka sulam?
Allah lindungi mereka, kasihi mereka, beri mereka kemenangan di dalam hati sehingga mereka bisa tetap menyulam ketupat meskipun sudah terkoyak!
Andai Sepak Bola Itu Agama June 9, 2006
Posted by ariftsyam in Insight, Religious, Sport.add a comment

Hmmm … apa jadinya ya kalau sepakbola itu adalah sebuah agama? Yang pasti akan terjadi adalah bahwa Agama Sepakbola adalah yang paling besar penganutnya di muka bumi ini (bahkan kalau mungkin game yang pernah diciptakan itu dianggap sebagai planet, maka berarti di planet game pun sepakbola punya penganut terbesar).
Sebagai sebuah agama tentu sepakbola harus ada yang dituhankan. Hmmm … siapa yang pantas ya? Pele? Franz Beckenbeuer? Johan Cryuff? Paolo Rossi? Atau Maradona yang sudah terlanjur dituduh memiliki ‘tangan tuhan’? Tapi, beberapa hari lalu jam tangannya disita poiisi tuh?
Pasti tidak seragam orang memilih tuhan di agama sepakbola ini. Dan apakah harus pemain atau pelatih? Karena banyak pelatih yang punya andil sangat besar atas keberhasilan pemain-pemain sepakbola dunia. Seorang Gus Hiddink pun diperebutkan gara-gara berhasil membawa Korea Selatan melaju ke babak-final Piala Dunia episode empat tahun lalu.
Hmmm … susah juga ya??? Tapi … ah, aku tahu! Tuhan sepakbola hanya ada satu! Dia bukan manusia apalagi binatang.
Tuhan sepakbola adalah UANG!

WELCOME WORLD CUP!!!
KETIKA SEORANG ANAK BALITA GUGAT TUHAN April 28, 2006
Posted by ariftsyam in Insight, Kids.add a comment

Tuhan …
Bolehkah aku tanya? Kenapa aku lahir ke planet ini? Apa tidak ada planet lain?
Maksud aku, kenapa aku lahir dengan orangtua yang seperti ini? Mereka bercerai tanpa peduli pendapat – paling tidak tanya dulu kek pendapat aku.
Kenapa ya, Tuhan?
Aku kan gak minta dilahirkan? Maksud aku dilahirkan oleh mereka. Kalau saja aku tahu akan begini jadinya, aku pengen deh ga punya orangtua seperti mereka. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri aja. Mereka ga mikir kalau mereka bercerai berarti aku kan punya orangtua yang ga lengkap. Masak sebentar aku tidur di rumah mama, beberapa hari kemudian tidur sama papa, di rumah yang berbeda. Aku ga kepengen punya kehidupan seperti ini.
Tuhan …
Kalau mereka memang salah mengambil keputusan untuk menikah dulu, kenapa juga kesalahan mereka jadi kesalahan aku juga? Waktu mereka pacaran trus menikah, aku kan belom ada. Kenapa Tuhan?
Sekarang aku harus bagaimana, Tuhan?
Sebab, suaraku ini tak mungkin mereka dengar. Sebab, suaraku ini hanya angan-angan belaka. Seandainya saja mereka bisa mendengar atau seandainya saja aku bisa bicara seperti mereka, mau ga ya mereka tidak egois?
Tuhan,
Boleh ga aku minta sesuatu? Bisa ga balikin aku kembali ke surga?
(Ini suara hatiku melihat kasus-kasus perceraian yang makin menggila di kalangan selebriti)
Bagaimana Kalau Kartini Jadi Cover Playboy? April 21, 2006
Posted by ariftsyam in Insight, Woman.1 comment so far

Ya, kalau saja Kartini masih hidup dan ditawarkan jadi cover majalah Playboy Indonesia, apa ya kira-kira reaksinya?
Ini bukan guyonan. Tapi, coba saja kita bayangkan, dia, Kartini, yang selalu kita peringati setahun sekali itu, lalu kita ‘anugrahi’ menjadi cover majalah Playboy.
Sebuah majalah yang katanya merupakan ekspresi kebebasan seni tubuh perempuan. Sebuah kebebasan yang sangat luas, bahkan sangat-amat luas.
Dan di saat emansipasi itu telah tercapai – bahkan Kartini pun tak pernah melihatnya – saat ini, ternyata banyak terjadi kebablasan. Dulu, perempuan tak ada yang korupsi, sekarang ada. Dulu, tak ada perempuan yang selingkuh, sekarang banyak. Dulu, perempuan sangat menjaga tubuhnya, sekarang diobral.
Maka banjirlah media-media yang memanfaatkan tubuh perempuan sebagai obyek ‘jualan’. Puncaknya, saat majalah Playboy diizinkan terbit di sini. Lalu, muncullah ide meng-’anugrahi’ Kartini di cover majalah itu sebagai puncak dari hasil perjuangan yang kebablasan.
…
Sedih rasanya. Perjuangan yang harus ditempuh dengan pengorbanan perasaan selama bertahun-tahun oleh Kartini ternyata malah diplintir oleh kaumnya sendiri.
Bayangkan, mereka para model berdalih bahwa berpose vulgar di media-media esek-esek adalah bagian dari kebebasan mereka mencari uang. Kebebasana yang sama dengan perempuan yang jadi kernet bis, pedagang, maling, manager, direktris atau komisaris bahkan menteri.
Ironis …
… kulihat ibu ‘Kartini’ (bukan pertiwi) sedang bersusah hati … airmatanya berlinang …
Kembali ke pertanyaan awal, apa ya kira-kira reaksi Kartini kalau ditawari jadi model cover majalah Playboy Indonesia?
FIRST LOVE FIRST April 11, 2006
Posted by ariftsyam in Insight, Love.add a comment
Drama keluarga Gusti Randa dan Nia Paramita belakangan ini makin melengkapi kisah-kisah haru-biru dunia artis kita. Mungkin selayaknya kita mengucapakan, ‘innalillahi wainnailaihi rojiun’. Bagaiman tidak? Pernikahan seperti bukan lagi lembaga yang sakral bagi mereka, dan perceraian sepertinya sudah menjadi solusi emas, bahkan mungkin berlian. Tragis!
Kita semua pernah mendengar kalimat, ” … meregang nyawa … ” yang artinya nyawa seseorang hilang dari jasadnya alias tewas, alias mati! Nah, saya ingin mengistilahkan kondisi dunia artis kita dengan kalimat “meregang cinta”.
Ya, sepertinya artis-artis kita telah kehilangan rasa cinta sejati. Cinta telah meregang dari jasad mereka. Sehingga begitu mudahnya menikah dan begitu mudahnya juga bercerai.
Kasihan pendeta Valentino yang konon dihukum mati karena ia melanggar larangan kerajaan yang berkuasa saat ia hidup untuk menikahkan sepasang kekasih secara agama (Kristen). Dan pada hari ia dihukum, menurut sejarah yang pernah saya baca, dijadikanlah hari peringatan Valentine untuk mengenang perjuangan si pendeta yang rela dihukum mati demi melanggengkan cinta sepasang kekasih untuk menjadi suami-istri.
Dan ironisnya, para artis kitalah yang sering merayakan hari Valentine. Jadi, sepertinya hari Valentine tak punya makna apa-apa selain hura-hura dan menghamburkan uang.
Yang jelas, pernikahan dan perceraian bagi artis-artis kita sepertinya dianggap sebagai bagian dari acting/lakon sebuah sinetron, drama panggung atau film layar lebar. Atau mungkin kita perlu menciptakan sebuah award untuk hal ini dengan nama Love-Acting Award? Artinya siapa yang paling gampang jatuh cinta dan paling mudah untuk merusaknya kembali berhak atas award itu.
Lucunya lagi, saat salah-satu pihak (apakah suami atau istri) menggugat pasangannya seolah-olah ia telah menjatuhkan vonis mati. Pokoknya cerai! Tak ada kata kompromi, tak ada ruang untuk sekadar merenung. Sepertinya semua cara damai telah ditempuh dan mentok pada jalan buntu.
Pihak keluarga pun diabaikan dengan tameng kata-kata “semuanya kami berdua yang menjalankan, kenapa harus orang lain dilibatkan?” Sepertinya ia lupa bahwa saat menikah mereka ikut melibatkan keluarga untuk mohon doa restu. Di saat mereka sedang terpuruk mereka seperti menutup doa restu itu.
Aku pun jadi teringat ayat Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya dengan kalimat saktinya “… kun faya kun … jadi maka jadilah …”
Aku jadi tertawa miris dalam hati, “Apakah mereka ingin menjadi Tuhan?” dengan menutup semua jalan damai tanpa kecuali. Apalagi dengan begitu gamblangnya mereka membuka kesalahan fatal pasangannya sebagai alasan gugatan cerai mereka. Seolah-olah hanya pasangannyalah yang pernah bersalah dan mereka tak pernah melakukan kesalahan. Seolah-olah pasangannya memang layak dihukum oleh dia. Dan Tuhan pun yang Maha Pengampun ia langkahi. Duh!
Pernah dengan kalimat “First Thing First”? Yang maknanya secara sekilas, melakukan apa yang terpenting dan paling dibutuhkan terlebih dahulu dibanding hal lain. Mudah-mudahan pernah.
Dengan banyaknya peristiwa ‘meregang cinta’ saat ini aku jadi ingin menganalogikan istilah itu menjadi “First Love First”. Maksudnya, mencintai apa yang paling penting dan yang hakiki terlebih dahulu sebelum mencintai yang lain.
Yang paling penting dan hakiki untuk dicintai? Apalagi kalau bukan Allah? Sebab, dia yang Maha segala-galanya. Ya, Pengasih dari segala yang Pengasih, Pengampun dari segala Pengampun, Pencinta dari segala Pencinta, dan segala yang lainnya.
Lalu aku berpikir, jangan-jangan para artis kita memang tidak atau belum bias mencintai Allah secara tulus dan mendalam. Sehingga ia tak pernah bisa mendalami apa makna ke-Maha-an Allah atas segalanya. Karena itu mereka bertindak seolah-olah seperti Allah.
Misalnya, kalau saja mereka mau mendalami makna Maha Pengampun dari Allah, maka mungkin mereka akan berpikir, “Kalau Allah saja mau mengampuni hambanya yang bertobat, kenapa aku harus sombong tak mau mengampuni pasanganku?” Tak tahulah aku.
Dengan segala kerendahan hati aku ingin mengajak khususnya pada diriku sendiri dan siapa pun kamu, mari cintailah Allah sepenuh hati sebelum mencintai yang lain di muka bumi ini. First love first!
Komoditas Itu Bernama Kemiskinan October 14, 2005
Posted by ariftsyam in Insight, Media.1 comment so far
Negeri ini memang sudah berada di bawah garis kewajaran dalam hal menangani kemiskinan. Maksudku, sudah tak ada lagi rasa tak tega atau malu, apalagi dosa, untuk mempermainkan nasib kaum papa (duh, semoga aku ga masuk dalam golongan itu, amiiinnn).
Soal kenaikan BBM aku sih setuju-setuju aja (tapi bukan setinggi yg sekarang, hiks), tapi soal penyebaran kompensasi dana subsidi BBM itu sungguh di luar dugaan. Kenapa harus memberi ikan, bukan kail, kepada rakyat? Apakah dengan memberikan uang lantas semua jadi beres?
Benar kata orang bijak : uang itu bisa jadi setan sekaligus malaikat! Tergantung bagaimana kita menyikapinya saat menerima uang itu dalam hitungan sepersekian detik saja. Kalau kita mau jadi setan, maka jadilah kita setan dalam sekejap (gak perlu bantuan pemburu setan). Tapi, kalau kita mau jadi malaikat saat menerima uang itu, maka jadi malaikatlah kita.
Persoalannya, kebanyakan rakyat belum paham benar bagaimana untuk menjadi malaikat dan untuk tidak jadi setan saat menerima uang dalam jumlah berapa pun. Kita belum dibiasakan menjadi entrepreneur untuk diri kita sendiri. Lihatlah betapa kita lebih bangga kalau jadi pegawai ketimbang jadi pengusaha. Betapa kita lebih mementingkan selembar ijazah sarjana ketimbang kemampuan seseorang.
Lihat juga di televisi, betapa rakyat miskin telah dininabobokkan oleh acara bagi-bagi rezeki. Tak ada satu pun dari acara itu yang mengajarkan atau paling tidak mengingatkan bagaimana cara mengelola uang yang mendadak jatuh dari langit itu.
Jadi, televisi dan para kreator acara-acara tersebut sadar atau tidak sadar telah mendidik rakyat miskin untuk tetap jadi miskin. Uang yang mereka berikan atau sumbangkan tidaklah signifikan dengan penderitaan mereka selama ini dan yang akan datang. Mungkin perlu ada survey terhadap mereka yang telah menerima uang tersebut untuk mengetahui bagaimana nasib mereka selanjutnya.
Belum lagi kalau kita melihat iklan-iklan yang menyertai acara-acara tersebut yang rata-rata bisa dibilang lebih dari lumayan. Bahkan, lebih dari cukup untuk membiayai ongkos produksinya yang memang murah. Gimana ga murah? Ga perlu setting lokasi, make-up artis dan fee sutradara cs yang biasanya makan biaya tinggi.
Jadi, uang yang diberikan kepada rakyat jelata dalam acara tersebut adalah sepersekian persen dari total pendapatan iklan. Artinya, selain rakyat-rakyat miskin yang jadi obyek acara tersebut, pihak-pihak yang tertolong lainnya adalah para kru, pembawa acara dan tentunya rumah produksi acara tersebut yang notabene mungkin tak lebih miskin dari para obyek acara tersebut.
Dengan lain perkataan : kemiskinan adalah komoditas yang laris manis!
Aku sih berharap dan – ingin percaya – para kru atau pembawa acara yang jauh lebih baik nasibnya dari si obyek punya sendiri dalam menolong para obyek ini dengan cara-cara yang mungkin tak ditayangkan. Tapi, dampak psikologis dari acara ini lebih banyak bersifat ria ketimbang sebuah keikhlasan atau ingin mengetuk hati orang kaya untuk berbagi. Bagi rakyat kebanyakan pun efeknya hanya menjadi penunggu rezeki nomplok bukan sebagai human beings who are ready to survive!
Atau dengan kata lain, seperti para pegawai (ma’af) yang selalu menunggu gaji tiap akhir bulan (padahal sebenarnya jadi pegawai tidaklah selalu jelek kalau saja punya juga karakter sebagai entrepreneur, artinya tak melulu mengharapkan gaji yang ada).
Atau jangan-jangan SBY dan JK juga terinspirasi acara-acara seperti ini untuk membagi-bagikan dana kompensasi BBM ini? Sebab, belakangan JK pun sibuk inspeksi ke berbagai lokasi untuk menyaksikan pembagian dana ini yang selalu ditayangkan di televisi. Hanya saja JK tak pakai kostum Mr. Easy Money he he he …
BBM, BOM, PUASA : MAAF! October 4, 2005
Posted by ariftsyam in Economy, Insight, Politics.add a comment
Media massa di negeri ini memang punya karakter yang rasanya sulit untuk dipahami (aku akan tulis sendiri di bagian yang lain) dibanding memahami keberpihakan media Barat kepada hal-hal yang berbau non-Islam.
Kembali ke masalah Bom Bali dan BBM. Siapa pun pasti tak setuju dengan Bom di Bali kemarin, dan tentu juga tidak setuju dengan kenaikan BBM yang melambung itu. Bom tentu mampu mencabut nyawa seseorang, bahkan banyak orang. Kenaikan BBM, meski dana subsidinya dialihkan untuk membantu banyak orang miskin, tapi tak bisa disangkal akan mampu juga mencekik kalangan menengah.
Kalangan menengah adalah yang paling menderita kalau begini. Sudah tak dapat pembagian dana subsidi, karena tidak termasuk orang miskin, tapi harus menanggung kenaikan harga di mana-mana – mulai dari ongkos kendaraan umum sampai barang-barang kebutuhan sehari-hari – sementara gaji tidak naik-naik.
Apalagi Bom Bali II ini membuat dolar bergejolak lagi. Harga-harga pun akan bergerak bukan lagi hanya karena kenaikan BBM, tapi gara-gara ketidakstabilan ekonomi akibat Bom itu. Tambahan lagi, bulan puasa menjelang. Kebutuhan orang pun akan meningkat. Artinya, demand pun naik, sementara supply bisa jadi akan berkurang – akibat kenaikan BBM yang melambungkan ongkos-ongkos transportasi. Dengan kata lain, makin terjepitlah kita yang berada di golongan menengah ini.
Haruskah kita memiskinkan diri agar dapat aliran dana limpahan subsidi BBM? Aku juga ingat hikayat-hikayat zaman kerajaan dulu yang katanya raja-rajanya harus menyamar jadi orang miskin juga untuk bisa keliling di kampung2 orang miskin untuk tahu kondisi mereka. Nah, kalau kita harus menyamar jadi orang miskin rasanya bukan untuk mengetahui bagaimana nasib orang miskin, tapi untuk mendapatkan jatah orang miskin. He he he … lucu juga ya … tiba-tiba kita ingin jadi orang miskin kalo begini situasinya?
Namun, program bagi-bagi uang ke mereka yang masih tergolong miskin pun masih kita perlu pertanyakan. Tepatkah program itu? Bukankah itu sama saja dengan memberi ikan, bukan pancing?
Beberapa malam lalu saat aku naik taksi (berkat voucher dari kantor, bukan karena bayar sendiri), aku sempat ngobrol ngalor-ngidul dengan supir taksi. Dia bercerita bahwa program itu sudah diselewengkan di beberapa wilayah Jakarta. Beberapa ketua RW yang males mendata warga2 miskinnya dengan enaknya mendaftarkan diri kenalan2nya untuk jadi orang miskin agar dana yang ada di tangannya bisa disalurkan. Tapi, dengan catatan ia juga harus dapat bagian paling gak 10%. Gila ‘kan?
Hayo-hayo … siapa mau jadi orang miskin??? Edan tenan!
Dan beberapa hari sebelum pengumuman kenaikan BBM, kita kalangan menengah ini – yang notabene pasti punya HP – dikirimi pula SMS dari Depkominfo (ini akan jadi preseden utk masa-masa mendatang) tentang kenapa harga BBM harus naik. Ingin rasanya aku membalas SMS itu dengan kalimat begini : “Terus, apa dengan begitu persoalan orang miskin akan selesai? Terus, siapa yang bantu kami – orang yang tidak miskin tapi juga tidak kaya ini hah??? Siapa yang bisa bantu????”
Sayangnya SMS itu diprogram untuk tidak bisa menerima balasan. Dan aku khawatir untuk program-program pemerintah lainnya maka Depkominfo akan ‘bermain kata-kata’ lagi di HP kita. Siap-siap aja!
Dan, sekarang aku pun mengerti kenapa SBY memaksakan kenaikan BBM ini menjelang puasa. Mungkin kita semua sudah tahu. Karena : orang yang berpuasa itu akan mampu menahan rasa lapar, haus dan emosi, termasuk emosi terhadap kenaikan harga-harga barang dan ongkos-ongkos transport yang mengikuti jejak kenaikan harga BBM.
Dan Tim SBY pun akan dengan enteng akan bilang: sehubungan dengan bulan puasa ini kami mohon maaf bila ada kesalahan yang telah kami perbuat … Hebat ‘kan? Dan pada saat Idul Fitri nanti akan ada lagi pernyataan seperti ini : kemenangan telah kita raih atas segala rintangan hidup selama bulan puasa, termasuk mengatasi kenaikan harga-harga … Mohon Maaf Lahir Bathin!
Percaya atau tidak, tapi penasehat SBY perlu diacungi jempol untuk memilih momen yang sangat tepat ini. Tapi, jangan-jangan yang punya rencana Bom di Bali juga punya hitung2an yang sama : menjelang puasa adalah saat orang minta maaf untuk membersihkan diri. Jadi, mereka melakukan teror dulu, lalu kalau tertangkap mereka akan minta maaf, mumpung bulan puasa. Wallahualam!
Yang jelas, aku mau minta maaf kepada rekan2 yang kenal aku sejak lama atau baru kenal di FS ini jelang Ramadhan ini. Ini permohonan maaf yang tulus, tidak diembel-embeli apa pun. Suwer! Maafin yaaaa …
Semua Berawal dari Proaktif September 1, 2005
Posted by ariftsyam in Insight.1 comment so far
Begitulah seharusnya, kata orang-orang yang telah sukses, “Semua berawal dari proaktif”. Maka, kunamakanlah blogku ini dengan nama Proaktif. Dengan harapan, tentunya, blog ini bisa menginspirasi aku, orang-orang yang membacanya dan siapa pun yang terlibat di dalamnya, mencapai kesuksesan seperti apa yang aku impikan. Semoga!