God Willingness? March 10, 2008
Posted by ariftsyam in Family, Insight, Love, Religious.add a comment
In recent days, especially in my country, Indonesia, the press covered a lot and
getting hot the divorce trial of Ariel ‘Peter Pan’ (a name of a group band) and his wife. Nothing is interested, actually. Because, as other artists’ divorce process, the reason
is clise.
But, there is something that has intrigue my attention. It comes from a statement of an old women who claimed that this divorce process is just God’s willingness. God’s willingness? Is it? Is it true that God want this couple to be apart?
The ‘God’s willingness’ is truly a theme that will trigger a long-long discussion, even it could be a never-ending debat. But, the simple question is, “God, the Equitable and Most Justice, want a separation of a couple who has a little-funny girl?” Isn’t it weird, right?
What I do believe is just that pairing/marriage is in God’s hand, but not the divorce! Someone could do a mistaken as choosing husband or wife when they married and then claimed that they are not an idol couple that they have to the divorce way. However, it should be clarify how was the process of their marriage. Have they do the process as God’s willing? If not, don’t say the divorce is the God’s willingness! Period!
FIRST LOVE FIRST April 11, 2006
Posted by ariftsyam in Insight, Love.add a comment
Drama keluarga Gusti Randa dan Nia Paramita belakangan ini makin melengkapi kisah-kisah haru-biru dunia artis kita. Mungkin selayaknya kita mengucapakan, ‘innalillahi wainnailaihi rojiun’. Bagaiman tidak? Pernikahan seperti bukan lagi lembaga yang sakral bagi mereka, dan perceraian sepertinya sudah menjadi solusi emas, bahkan mungkin berlian. Tragis!
Kita semua pernah mendengar kalimat, ” … meregang nyawa … ” yang artinya nyawa seseorang hilang dari jasadnya alias tewas, alias mati! Nah, saya ingin mengistilahkan kondisi dunia artis kita dengan kalimat “meregang cinta”.
Ya, sepertinya artis-artis kita telah kehilangan rasa cinta sejati. Cinta telah meregang dari jasad mereka. Sehingga begitu mudahnya menikah dan begitu mudahnya juga bercerai.
Kasihan pendeta Valentino yang konon dihukum mati karena ia melanggar larangan kerajaan yang berkuasa saat ia hidup untuk menikahkan sepasang kekasih secara agama (Kristen). Dan pada hari ia dihukum, menurut sejarah yang pernah saya baca, dijadikanlah hari peringatan Valentine untuk mengenang perjuangan si pendeta yang rela dihukum mati demi melanggengkan cinta sepasang kekasih untuk menjadi suami-istri.
Dan ironisnya, para artis kitalah yang sering merayakan hari Valentine. Jadi, sepertinya hari Valentine tak punya makna apa-apa selain hura-hura dan menghamburkan uang.
Yang jelas, pernikahan dan perceraian bagi artis-artis kita sepertinya dianggap sebagai bagian dari acting/lakon sebuah sinetron, drama panggung atau film layar lebar. Atau mungkin kita perlu menciptakan sebuah award untuk hal ini dengan nama Love-Acting Award? Artinya siapa yang paling gampang jatuh cinta dan paling mudah untuk merusaknya kembali berhak atas award itu.
Lucunya lagi, saat salah-satu pihak (apakah suami atau istri) menggugat pasangannya seolah-olah ia telah menjatuhkan vonis mati. Pokoknya cerai! Tak ada kata kompromi, tak ada ruang untuk sekadar merenung. Sepertinya semua cara damai telah ditempuh dan mentok pada jalan buntu.
Pihak keluarga pun diabaikan dengan tameng kata-kata “semuanya kami berdua yang menjalankan, kenapa harus orang lain dilibatkan?” Sepertinya ia lupa bahwa saat menikah mereka ikut melibatkan keluarga untuk mohon doa restu. Di saat mereka sedang terpuruk mereka seperti menutup doa restu itu.
Aku pun jadi teringat ayat Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya dengan kalimat saktinya “… kun faya kun … jadi maka jadilah …”
Aku jadi tertawa miris dalam hati, “Apakah mereka ingin menjadi Tuhan?” dengan menutup semua jalan damai tanpa kecuali. Apalagi dengan begitu gamblangnya mereka membuka kesalahan fatal pasangannya sebagai alasan gugatan cerai mereka. Seolah-olah hanya pasangannyalah yang pernah bersalah dan mereka tak pernah melakukan kesalahan. Seolah-olah pasangannya memang layak dihukum oleh dia. Dan Tuhan pun yang Maha Pengampun ia langkahi. Duh!
Pernah dengan kalimat “First Thing First”? Yang maknanya secara sekilas, melakukan apa yang terpenting dan paling dibutuhkan terlebih dahulu dibanding hal lain. Mudah-mudahan pernah.
Dengan banyaknya peristiwa ‘meregang cinta’ saat ini aku jadi ingin menganalogikan istilah itu menjadi “First Love First”. Maksudnya, mencintai apa yang paling penting dan yang hakiki terlebih dahulu sebelum mencintai yang lain.
Yang paling penting dan hakiki untuk dicintai? Apalagi kalau bukan Allah? Sebab, dia yang Maha segala-galanya. Ya, Pengasih dari segala yang Pengasih, Pengampun dari segala Pengampun, Pencinta dari segala Pencinta, dan segala yang lainnya.
Lalu aku berpikir, jangan-jangan para artis kita memang tidak atau belum bias mencintai Allah secara tulus dan mendalam. Sehingga ia tak pernah bisa mendalami apa makna ke-Maha-an Allah atas segalanya. Karena itu mereka bertindak seolah-olah seperti Allah.
Misalnya, kalau saja mereka mau mendalami makna Maha Pengampun dari Allah, maka mungkin mereka akan berpikir, “Kalau Allah saja mau mengampuni hambanya yang bertobat, kenapa aku harus sombong tak mau mengampuni pasanganku?” Tak tahulah aku.
Dengan segala kerendahan hati aku ingin mengajak khususnya pada diriku sendiri dan siapa pun kamu, mari cintailah Allah sepenuh hati sebelum mencintai yang lain di muka bumi ini. First love first!