God Willingness? March 10, 2008
Posted by ariftsyam in Family, Insight, Love, Religious.add a comment
In recent days, especially in my country, Indonesia, the press covered a lot and
getting hot the divorce trial of Ariel ‘Peter Pan’ (a name of a group band) and his wife. Nothing is interested, actually. Because, as other artists’ divorce process, the reason
is clise.
But, there is something that has intrigue my attention. It comes from a statement of an old women who claimed that this divorce process is just God’s willingness. God’s willingness? Is it? Is it true that God want this couple to be apart?
The ‘God’s willingness’ is truly a theme that will trigger a long-long discussion, even it could be a never-ending debat. But, the simple question is, “God, the Equitable and Most Justice, want a separation of a couple who has a little-funny girl?” Isn’t it weird, right?
What I do believe is just that pairing/marriage is in God’s hand, but not the divorce! Someone could do a mistaken as choosing husband or wife when they married and then claimed that they are not an idol couple that they have to the divorce way. However, it should be clarify how was the process of their marriage. Have they do the process as God’s willing? If not, don’t say the divorce is the God’s willingness! Period!
Ujian Itu Justru Baru Dimulai October 31, 2006
Posted by ariftsyam in Religious.add a comment
Suara Rendra begitu aku kenal. Tanpa sosoknya pun rasanya kita dengan mudah mengenal suara Maestro itu. Jadi, ketika suaranya muncul sebagai narrator iklan layanan masyarakat sebuah produk di TV dalam rangka Idul Fitri tahun ini, sudah tak terlalu asing bagiku.
Sudah lama tak mendengar suaranya (terakhir malah ketika ia berpidato saat menerima Penghargaan Achmand Bakrie Agustus lalu – saat aku jadi crew EO acara itu). Sungguh sangat menenangkan.
Tapi, ketika menyimak apa yang ia lontarkan dari mulutnya, aku sedikit terhenyak. “Sudah berapa Ramadhan yang kita lalui … sudah berapa maaf yang kita minta ? “
Ya, rasanya memang keterlaluan! Sudah belasan bahkan mungkin puluhan kali kita bertemu Ramadhan dan bermaaf-maafan saat Idul Fitri. Tapi, ternyata dari tahun ke tahun ukhuwah/hubungan kita dengan sesama dan dengan Yang Khalik sepertinya begitu-begitu saja.
Jadi apa artinya maaf-maafan? Apa artinya kita berlatih mengendalikan emosi dan nafsu selama sebulan setiap tahun? Aku membathin.
Ah … dengan suara Rendra itu aku jadi makin tersentak. Bahkan, seperti dihempaskan dari atas ke lantai hingga aku pun merenung ketimbang kesakitan karena hempasan itu.
Pikiran setanku pun segera memberi angin, “Ah, banyak juga orang bersikap serupa tapi mereka toh tetap bisa menjalani hidup ini dengan sukses?” Pikiran malaikatku membantah, “Kehidupan orang tidaklah seharusnya menjadi barometer kehidupan diri sendiri.”
Aku kembali merenung. Hingga akhirnya aku teringat kata-kata Aa Gym bahwa barometer sukses seorang muslim adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin, dan apakah besok kita akan menjadikannya lebih baik dari hari ini.
Hmm … daily parameter, boleh juga. Dan rasanya bukan hanya untuk soal keimanan, untuk soal kerja bisa juga nih.
Lalu aku berpikir lagi, Ramadhan memang seharusnya jadi paremeter keimanan kita dari tahun ke tahun. Lucunya kebanyakan dari kita menjadikannya hanya sebagai bulan pembersihan diri atau, parahnya lagi, istirahat. Sebulan bersih atau rehat, 11 bulan lainnya … ya back to basic! Bah!?
Karena itu, pas sekali kalimat Rendra di iklan layanan masyarakat itu. Dengan berkali-kali kita berlatih dan berkali-kali minta maaf sepertinya kita bermain-main dengan Allah.
Bayangkan, betapa kita termasuk orang-orang yang tak pandai bersyukur? Padahal tak terhitung hidayah dan berkah yang diberikan-Nya setiap detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun? Padahal belum tentu kita bertemu kembali Ramadhan berikutnya?
Lantas aku pun berpikir, sebenarnya ujian yang sesungguh-sungguhnya adalah 11 bulan kemudian setelah Ramadhan hingga kita bertemu kembali Ramadhan. Bukan saat kita menahan rasa lapar, haus, nafsu atau emosi selama sebulan. Ya, ini memang bukan ujian yang ringan. Apalagi dengan kehidupan seperti di Indonesia ini dengan segala tetek-bengek persoalan yang multi-dimensi yang tak ada habisnya.
Aku sekarang jadi lebih paham kenapa Rasulullah begitu sedih dan menyebut-nyebut : “ummati … ummatiii … ummatiii …” saat ia sedang sekarat. Konon, itu merupakan gambaran betapa berat ujian yang akan dihadapi oleh ummatnya sepeninggalnya. Dan kalau tak salah, ia pernah bersabda bahwa ummatnya yang kelak hidup tanpa kehahiran dirinya nilai tawakalnya lebih baik ketimbang ummatnya yang hidup di zamannya.
Hmmm … sementara apa yang kita lakukan saat ini? Kembali lagi ke kalimat Rendra …. : Sudah berapa Ramadhan yang kita lalui? Sudah berapa maaf yang kita minta? … Dan kita masih begini-gini saja? Yang terakhir ini dari bathinku sendiri.*
Andai Sepak Bola Itu Agama June 9, 2006
Posted by ariftsyam in Insight, Religious, Sport.add a comment

Hmmm … apa jadinya ya kalau sepakbola itu adalah sebuah agama? Yang pasti akan terjadi adalah bahwa Agama Sepakbola adalah yang paling besar penganutnya di muka bumi ini (bahkan kalau mungkin game yang pernah diciptakan itu dianggap sebagai planet, maka berarti di planet game pun sepakbola punya penganut terbesar).
Sebagai sebuah agama tentu sepakbola harus ada yang dituhankan. Hmmm … siapa yang pantas ya? Pele? Franz Beckenbeuer? Johan Cryuff? Paolo Rossi? Atau Maradona yang sudah terlanjur dituduh memiliki ‘tangan tuhan’? Tapi, beberapa hari lalu jam tangannya disita poiisi tuh?
Pasti tidak seragam orang memilih tuhan di agama sepakbola ini. Dan apakah harus pemain atau pelatih? Karena banyak pelatih yang punya andil sangat besar atas keberhasilan pemain-pemain sepakbola dunia. Seorang Gus Hiddink pun diperebutkan gara-gara berhasil membawa Korea Selatan melaju ke babak-final Piala Dunia episode empat tahun lalu.
Hmmm … susah juga ya??? Tapi … ah, aku tahu! Tuhan sepakbola hanya ada satu! Dia bukan manusia apalagi binatang.
Tuhan sepakbola adalah UANG!

WELCOME WORLD CUP!!!