jump to navigation

Sudden-death Dalam Pendidikan Kita June 26, 2006

Posted by ariftsyam in Education, Sport.
add a comment

Rupanya pola pendidikan kita belum lebih maju dari era pemerintahan terdahulu. Bayangkan saja, Menteri Pendidikan saat ini saja sampai terinspirasi dari World Cup yang lagi heboh. Terinspirasi apanya?
Bagi kalian yang gemar nonton sepakbola tentu tidak asing dengan istilah ‘sudden-death’! Istilah ini dipakai pada pertandingan sepakbola yang mengalami perpanjangan waktu akibat belum ada tim yang pantas jadi juara. Nah, tim mana pun yang berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan dalam proses perpanjangan waktu itu, maka dialah yang berhak jadi juara.
Dengan kata lain, sejago apa pun, sekuat apa pun atau meski sepanjang pertandingan tim itu hampir menguasai bola, tapi kalau sudah kecolongan gol pada perpanjangan waktu maka tamatlah riwayatnya saat itu juga!
Sudden-Death!!! Mati mendadak, begitu mungkin terjemahan kasarnya. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Begitu mungkin kata pribahasa.
Nah, Sudden-Death inilah yang rupanya menginspirasi Menteri Pendidikan kita. Jadi, sepintar apa pun, secerdas apa pun, sejuara apa pun seorang siswa selama tiga tahun dia belajar, atau perguruan tinggi mana pun yang sudah memanggil dia berkat prestasinya selama tiga tahun belajar, tapi kalau tidak lulus yang namanya Ujian Akhir Siswa (UAS) Nasional, tamatlah riwayatnya!

Hmmm … aku pun berpikir bakal jadi apa generasi yang dibina dengan pola pendidikan seperti ini di masa mendatang? Akankah mereka jadi orang yang mampu memimpin bangsa ini nantinya? Betulkah prestasi seseorang hanya diukur dari sebuah ujian beberapa jam? Bukankah era saat ini adalah eranya EQ bukan lagi hanya IQ? Bahkan ada kecendrungan sekarang sudah beranjak lagi ke era ESQ. Departemen Pendidikan kita masih men-dewakan IQ – dengan menilai siswa dari hanya menguji mata pelajaran dalam beberapa jam? Dan banyak lagi pertanyaan yang menumpuk di kepala ini yang sangat mengganggu.
Apakah ini hanya kekhawatiranku yang berlebih? Rasanyat tidak juga. Sebab, seorang psikolog anak sekaliber Kak Seto pun cemas dengan kondisi ini. Ia bilang, anak-anak akan lebih focus pada UAS ketimbang prestasi sesungguhnya dalam belajar. Aku setuju dengan Kak Seto. Ini yang disebut focus pada hasil bukan pada proses. Akibat buruknya segala cara akan dihalalkan nantinya. Oalaaahh …
Tak heran kalau sekarang banyak pejabat mengambil sikap seperti itu juga. Jangan-jangan dulu mereka saat sekolah …. Ah, jangan berprasangka buruk!
Kembali lagi ke system Sudden-Death! Aku paling tidak suka dengan system ini. Makanya kalau ada pertandingan sepakbola yang lantas terpaksa harus diperpanjang waktunya dan harus menerapkan system Sudden-Death, malas aku nontonnya. Sebab itu sudah adu nasib. Adu nasib artinya untung-untungan. Hahhh .. persetan dengan untung-untungan!!!
Pendidikan itu bukan untung-untungan! Makanya aku tidak pernah mau 100% menyerahkan pendidikan anakku pada sekolah. Di mana pun dia sekolah nantinya. Bagi aku, guru terbaik seorang anak tetaplah orangtuanya. Bagaimana orangtua begitulah si anak. Apalagi pola pendidikan kita masih seperti ini, bah, jangan pernah salahkan anak kalau kita sendiri tidak bisa mendidik mereka di rumah.

So, persetan dengan Sudden-Death. Persetan dengan Ujian Nasional! Bagi aku kualitas anakku nantinya bukan hanya ditentukan oleh deretan angka-angka di rapornya atau ijazahnya. Aku lebih percaya dengan kecerdasannya saat ia berdiskusi dengan aku soal apa pun atau kalau perlu adu kekuatan otak dalam bermain catur. Dan juga bagaimana ia pintar mengatur waktu (time management) antara bermain, beribadah dan belajar. Itu yang namanya generasi penuh potensi!!!

Andai Sepak Bola Itu Agama June 9, 2006

Posted by ariftsyam in Insight, Religious, Sport.
add a comment


Hmmm … apa jadinya ya kalau sepakbola itu adalah sebuah agama? Yang pasti akan terjadi adalah bahwa Agama Sepakbola adalah yang paling besar penganutnya di muka bumi ini (bahkan kalau mungkin game yang pernah diciptakan itu dianggap sebagai planet, maka berarti di planet game pun sepakbola punya penganut terbesar).
Sebagai sebuah agama tentu sepakbola harus ada yang dituhankan. Hmmm … siapa yang pantas ya? Pele? Franz Beckenbeuer? Johan Cryuff? Paolo Rossi? Atau Maradona yang sudah terlanjur dituduh memiliki ‘tangan tuhan’? Tapi, beberapa hari lalu jam tangannya disita poiisi tuh?
Pasti tidak seragam orang memilih tuhan di agama sepakbola ini. Dan apakah harus pemain atau pelatih? Karena banyak pelatih yang punya andil sangat besar atas keberhasilan pemain-pemain sepakbola dunia. Seorang Gus Hiddink pun diperebutkan gara-gara berhasil membawa Korea Selatan melaju ke babak-final Piala Dunia episode empat tahun lalu.
Hmmm … susah juga ya??? Tapi … ah, aku tahu! Tuhan sepakbola hanya ada satu! Dia bukan manusia apalagi binatang.
Tuhan sepakbola adalah UANG!

WELCOME WORLD CUP!!!