jump to navigation

Bagaimana Kalau Kartini Jadi Cover Playboy? April 21, 2006

Posted by ariftsyam in Insight, Woman.
1 comment so far


Ya, kalau saja Kartini masih hidup dan ditawarkan jadi cover majalah Playboy Indonesia, apa ya kira-kira reaksinya?
Ini bukan guyonan. Tapi, coba saja kita bayangkan, dia, Kartini, yang selalu kita peringati setahun sekali itu, lalu kita ‘anugrahi’ menjadi cover majalah Playboy.
Sebuah majalah yang katanya merupakan ekspresi kebebasan seni tubuh perempuan. Sebuah kebebasan yang sangat luas, bahkan sangat-amat luas.
Dan di saat emansipasi itu telah tercapai – bahkan Kartini pun tak pernah melihatnya – saat ini, ternyata banyak terjadi kebablasan. Dulu, perempuan tak ada yang korupsi, sekarang ada. Dulu, tak ada perempuan yang selingkuh, sekarang banyak. Dulu, perempuan sangat menjaga tubuhnya, sekarang diobral.
Maka banjirlah media-media yang memanfaatkan tubuh perempuan sebagai obyek ‘jualan’. Puncaknya, saat majalah Playboy diizinkan terbit di sini. Lalu, muncullah ide meng-’anugrahi’ Kartini di cover majalah itu sebagai puncak dari hasil perjuangan yang kebablasan.

Sedih rasanya. Perjuangan yang harus ditempuh dengan pengorbanan perasaan selama bertahun-tahun oleh Kartini ternyata malah diplintir oleh kaumnya sendiri.
Bayangkan, mereka para model berdalih bahwa berpose vulgar di media-media esek-esek adalah bagian dari kebebasan mereka mencari uang. Kebebasana yang sama dengan perempuan yang jadi kernet bis, pedagang, maling, manager, direktris atau komisaris bahkan menteri.
Ironis …
… kulihat ibu ‘Kartini’ (bukan pertiwi) sedang bersusah hati … airmatanya berlinang …
Kembali ke pertanyaan awal, apa ya kira-kira reaksi Kartini kalau ditawari jadi model cover majalah Playboy Indonesia?